Kamis, 15 Januari 2026

Perpisahan Membuat Kita Bersatu

Di sebuah desa di daerah Jawa, terdapat pasangan suami istri yang memiliki dua orang anak perempan yang bernama Sari dan Sarah. Pasangan suami istri ini sangat bingung karena setiap hari kakak beradik tersebut selalu bertengkar walaupun hanya masalah yang sepele.

Sari          : Sarah…!! (Berteriak) Mana tas aku? Kamu ini pakai tas aku terus.
Sarah       : Pelit banget sih! Aku kan cuma pakai sebentar aja. Dasar pelit!
Sari           : Biarin itu kan tas aku.
Ibu            : Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?
Sari           : Ini Bu, Sarah tukang pinjam tas aku. Padahal kan dia punya sendiri.
Sarah        : Aku cuma pinjam sebentar aja kok, dasar pelit.
Ibu            : Sudah-sudah kaliah ini ribut terus kerjaannnya.

Pasangan suami istri ini benar-benar pusing dan bingung, hingga pada suatu hari mereka bersepakat untuk memisahkan kedua putri mereka agar tidak terus bertengkar.

Ayah          : Sari, Sarah.
Sari            : Iya Ayah.
Sarah         : Ada apa Ayah?
Ibu             : Ibu dan Ayah telah bersepakat ingin memisahkan kalian berdua agar kalian tidak bertengkar terus. Jadi salah satu diantara kalian harus ada yang tinggal bersama Paman.
Sari             : Oke! Aku setuju, Aku juga tidak betah tinggal sama dia. (menunjuk Sarah)
Sarah          : Aku juga setuju, maaf ya kak seharusnya aku yang bicara begitu.
Ayah           : Siapa yang yang mau tinggal bersama Paman?
Sarah          : Aku saja Ayah, kan aku yang lebih dekat dengan Paman dan Bibi.
Sari              : Bagus deh! Sekarang aku bebas.

Pada keesokan harinya Sarah pun pergi ke rumah Paman yang berada di Desa sebelah. Hari demi hari telah di lalui Sari hanya bersama kedua orang tuanya, suasana rumah berubah sangat sepi tanpa teriakan dari kakak beradik tesebut.

Sari               : Sepi ya sekarang…
Ibu                : Baguslah Ibu itu pusing dengar kalian ribut terus.
Sari               : Sarah lagi ngapain ya Bu?
Ibu                : Entahlah Ibu juga tidak tahu.

Saat di rumah Paman, Sarah juga merasakan hal yang sama karena Paman dan Bibinya tidak memiliki anak.

Sarah            : Paman, kak Sari lagi ngapain ya sekarang?
Paman          : Kamu kangen sama kakakmu? (tanya Paman)
Sarah            : Iya Paman. Aku kangen sama kak Sari, Ayah, dan Ibu.
Paman          : Bukannya kamu suka bertengkar sama kakakmu?
Sarah            : Iya memang Paman, tapi tidak tahu kenapa tanpa kehadiran kak Sarah terasa ada yang kurang dari hidupku.
Paman           : Kalau Sarah mau besok Paman akan mengantar kamu pulang kerumah orang tuamu. Bagaimana Sarah?
Sarah             : Tidak Paman, nanti saja kalau liburan kita bersama-sama pergi ke sana.

Tidak terasa setahun sudah mereka berpisah. Sekarang libur telah tiba waktunya Sarah berkunjung kerumah Orang Tuanya.

Sari                  : Kok Sarah tidak pulang sih? Padahal kan sudah waktu libur. (berfikir)
Ibu                    : Kamu kenapa Sari? Dari tadi kok diam saja?
Sari                   : Sarah kok tidak pulang ya Bu padahal ini kan sudah waktu liburan?
Ibu                     : Mungkin dia lagi membantu Paman dan Bibimu.
Sari                    : Aku kangen sama Sarah Bu.
Sari dan Ibunya terus berbincang tanpa di sadari Sarah pun datang.
Sarah                 : Kakak…..!!! (berlari dan berteriak)
Sari                    : Sarah…..!!! (berteriak)
Sarah                 : Aku kangen sama kakak. (memeluk Sari)
Sari                    : Aku juga kangen sama kamu Sarah.
Sarah                 : Aku kangen suara kakak. Di rumah Paman tidak ada suara yang sekeras suara kakak.
Sari                     : Aku juga kangen berkelahi sama kamu.
Sarah                  : Kita jangan berpisah lagi ya kak?
Sari                     : Iya, aku juga tidak mau berpisah lagi dengan kamu!
Sarah.                 : Aku sayang sama kakak.
Sari                     : Kakak juga adikku sayang.
Ibu                      : Awas aja kalau kalian bekelahi lagi! Ibu akan pisahin kalian lagi!
Sarah dan Sari  : Iya Bu, kami tidak akan berkelahi lagi! (Kata keduanya)

HIKMAH:
Terkadang hal yang tidak diinginkan akan membuat kita menjadi rindu, terutama hubungan antara kakak dan adik. Sejauh apapun mereka dipisahkan, tetap akan bersatu walau hanya dalam impian.

.
Catatan:
Ini adalah percakapan dari tugas membuat naskah drama yang telah terbit sejak 13 Maret 2016 di catatanyuliasrini.wordpress.com karena blog tersebut sudah lama tidak dapat diakses. Saya ingin menampilkan kembali tulisan tersebut di blog ini. Tulisan yang masih sangat “biasa” bila dilihat saat ini karena dibuat oleh anak remaja kala itu. Seraya mengingat kembali telah banyak perubahan yang sudah dilewati.

.
đź–‹rinibahagiaa.blogspot.com

Minggu, 09 November 2025

Ubi Pembawa Mimpi

Tia selalu membawa bekal dalam tas gendong miliknya. Karena setiap kali jam makan siang ia langsung menyantapnya. Kali ini bekal Tia sedikit berbeda. Biasanya ia hanya membawa roti dan susu, namun kali ini ia sangat semangat memasak. Ia pun membuat bekal berisi nasi daun jeruk, udang krispi, beserta telur mata sapi. Tidak hanya itu, ia pun membuat jus semangka.


"Aku semangat sekali hari ini! Menu bekalku sudah siap yipi." (ucap Tia dengan girang)


Setelah menyiapkan bekal makanan miliknya, ia pun bergegas menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor. 


"Ma, Tika berangkat ke kantor dulu."


"Iya, hati-hati ya nak."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh."


Perjalanan menuju kantor cukup jauh sehingga ia berangkat lebih pagi setiap harinya.

Pagi ini seperti biasa Tia pergi bekerja dengan mengendarai sepeda motor kesayangannya.

Ia nampak menikmati setiap harinya. Senyumnya merekah, hatinya gembira, mulutnya senantiasa bernyanyi sembari menikmati suasana jalanan yang penuh pepohonan sejuk memandang.


Tiba di tengah perjalanan Tia bertemu dengan seorang anak kecil. Terlihat anak kecil itu mengenakan pakaian merah-putih yang artinya pakaian sekolah dasar. Sambil menggendong tas dan memegang plastik hitam ia duduk di pinggir jembatan. Wajah lelahnya tak bisa bohong. 

Tia pun berhenti dan menghampiri anak kecil itu.


"Halo dek, mau sekolah ya? Kenapa duduk sendirian?" (dengan nada lembut Tia bertanya"


"Iya kaka. Biasa saya memang sendiri."


"Sekolahnya masih jauh ya? Mari kakak antar."


"Sekolah sudah dekat kaka, itu diseberang."


Tia melihat ke arah plastik hitam yang dipegang anak itu. Rasa penasaran Tia membuatnya melanjutkan perbincangan.


"Nama adik siapa?"


"Saya nama Pinus."


"Oh Pinus. Pinus bawa apa di kantong plastik itu?"


"Emm, ini sarapan."


"Wah, Mama Pinus sudah buat sarapan enak buat Pinus. Pinus bawa sarapan apa?" (sambil tersenyum)


"Ini kaka. Ubi bakar"


Tia terkejut dan terdiam melihat isi bekal sarapan Pinus yang ternyata sebuah ubi bakar.


"Pinus setiap hari bawa bekal ubi?"


"Iya kaka. Ubi sudah biasa. Kata Mama, ini sudah nikmat yang Tuhan beri. Jadi setiap nikmat harus kita syukuri."


Air mata Tia tidak dapat ditahan. Ia tidak kuasa menahan tangis pagi itu. Ia pun bergegas mengambil bekal miliknya dan memberikan kepada Pinus.


"Pinus, tadi kakak buat bekal lebih. Jadi ini buat pinus. Tuhan yang titipkan ini lewat kakak untuk pinus, diterima yah."


"Kaka, ini benar dari Tuhan? Terima kasih Tuhan. Pinus senang sekali." (merasa gembira)


"Pinus sarapan ya, kakak pergi dulu karena harus berangkat bekerja."


"Terima kasih kaka. Hati-hati di jalan." (melambaikan tangan dan senyum bahagia)


Tia akhirnya berpamitan dengan Pinus. Melihat Pinus gembira, Tia merasa terharu. Sepanjang jalan Tia tidak berhenti menangis. Tia merasa bahwa selama ini ia kurang bersyukur. Rupanya banyak orang di luar sana yang jauh dari kata cukup, tetapi mampu untuk tidak mengeluh.


***

Kita selalu beranggapan bahwa setiap hal selalu kurang dan tidak cukup. Rupanya itu hanya tentang cara pandang kita dalam meihat nikmat yang Tuhan berikan. Banyak nikmat yang sering kali kita abaikan. Contoh kecil adalah jika kita tidak menyukai suatu makanan, maka kita tidak akan memakannya. Dibalik itu, banyak pihak yang kita kesampingkan. Ayah yang sudah bekerja keras, Ibu yang sudah memasak makanan, bahkan banyak orang yang menginginkan untuk bisa makan dengan layak.


Dibalik cerita ini, semoga kita semua menjadi orang yang mampu untuk selalu bersyukur.


.

đź–‹rinibahagiaa.blogspot.com

Senin, 29 September 2025

Hidup adalah Belajar

"Apa yang telah engkau pelajari ihwal

kehidupan hingga saat ini?"


~ Jawabannya:~


Aku banyak belajar untuk semakin mengenal 'diriku' setiap harinya.

Belajar menyikapi masalah dengan 

semakin tenang dan tidak gegabah.

Belajar mengerti arti berjuang yaitu 

menuju versi terbaik diri 

(menjadi lebih baik dari diriku yang dahulu).

Belajar untuk menerima dan 

berdamai dengan keadaan.

Belajar memahami setiap orang yang aku temui serta mengafirmasi bahwa 

'setiap orang adalah baik dan memiliki kebaikannya tersendiri untukku'.

Belajar memaafkan serta mendo'akan kebaikan untuk diri sendiri dan orang lain.


Hidup adalah wadah belajar bagiku.

Banyak hal yang telah terjadi dan 

cukup menjadi ceritaku.

Jika tiba saat aku menepi dan sulit untuk dicari,

artinya aku sedang menghadapi revisi 

tentang kehidupanku.

Barangkali ada yang salah atau kurang sesuai sehingga perlu untuk kuperbaiki.


Semua dapat kuselesaikan, jadi tenanglah.


.

đź–‹rinibahagiaa.blogspot.com

Selasa, 12 Agustus 2025

LAPIS LEGIT & KENANGAN MASA KECIL


Ini tentang sebuah cerita yang mengingatkanku

pada hari-hari nan indah di masa lalu.


Lapis legit.

Ya, salah satu jajanan manis ini kerap kali 

membuatku menitihkan air mata.


Mengapa demikian?


Lapis legit menjadi jajanan yang mewarnai masa kecilku.

Bukan soal harga, rasa atau bentuknya.

Tapi tentang keringat orang tuaku yang selalu menghadiahkan lapis legit tiap kali pergi ke supermarket.

Mengingat rumah dan tempat lapis legit 

begitu jauh jaraknya.


Tiap kali yang dibelikan untukku selalu lapis legit. Terlebih jika kenaikan kelas atau kemenanganku dalam suatu perlombaan.

Tentu lapis legit menjadi simbol hadiah dari orang tuaku.


Aneka rasa telah kucoba sedari kecil.

Pada tiap gigitannya tersimpan 

kehangatan dan kebahagiaan.

Rasanya bukan sekadar manis, tapi penuh cerita, tawa dan cinta kasih.


Sekian banyak jajanan 

bagiku lapis legit begitu sederhana 

namun membekas pada ingatan dan jiwaku.


Dia lapis legit.

Terselip memori dalam lapisannya.

Legitnya telah mencuri hatiku serta menghanyutkan dalam tiap gigitannya.


.

đź–‹rinibahagiaa.blogspot.com

Rin(du) Toko Buku

Buku selalu saja

memikat para mata

dimanapun ia

berada.


Seperti mereka 

yang tak letih

memenuhi barisnya 

di toko buku.


Aroma segar nampak

menyelimuti 

ruangan itu.


Huaahhh ...


Rasanya tak ingin 

beranjak

bila telah sampai

tempat itu.


Aku selalu merindu.

Rindu suasana toko buku.

Rindu aroma buku

yang baru

dibuka dari plastiknya.


.

📍Gramedia Jayapura

đź–‹rinibahagiaa.blogspot.com

Buku Tak Pernah Keliru

Buku memberiku 

banyak pelajaran.

Tentang arti

Kesabaran

Keihklasan

Kebahagiaan


Kesabaran.

Sabar dalam 

meniti lembar

demi lembar.


Keikhlasan.

Ikhlas apabila

ditemui di dalamnya

tak sejalan dengan

pikiran pembaca.


Kebahagiaan.

Bahagia bila menemukan

buku yang ternyata

separuh hati

yang hilang.


Buku tak pernah keliru

memilih penbacanya.

Hanya saja,

Si pembaca yang sering

keliru memilih buku apa 

yang hendak ia baca.


.

đź–‹rinibahagiaa.blogspot.com

Minggu, 10 Agustus 2025

Rupanya Bukan 'Dia' Orangnya

Waktu pernah memperlihatkanku 

pada 'mereka' 

yang pernah bersama.

Ya. 

Aku pernah melihat

beberapa pasangan yang anggapku 

sangat bernilai 

antara satu sama lain.


Luar biasa.

Sang wanita sungguh indah dan 

menawan hati.

Sang lelaki berjiwa pemimpin dan 

penuh kasih pada wanitanya.


Satu yang ingin kukatakan.

Mereka sungguh sempurna

saat bersama.


Namun ...


Rupanya aku salah.


Mereka tidak sesempurna itu 

dimata semesta.


Ego masih menggerogoti

jiwa antara satu dengan lainnya.

Sulit memilih antara prinsip diri

atau kebahagiaan bersama.


Dan,


Ya.

Kini tiba masing-masing 

telah berakhir

masa bersamanya.


Sebagian telah ditemukan dengan 

separuh hati abadinya.

Sebagian masih menikmati dirinya.


Kalian pernah segaris

mengisi untaian manis.

Saling kagum hingga meringis,

Tanpa sadar saling mengiris.


Semua tinggal 'memori', 

yang pasti 

akan terputar kembali

dalam sanubari.


Inilah hidup.


Semua berjalan tanpa 

aba-aba.

Tak apa.

Percayalah.

Pasti ada 

yang terbaik diantara 

yang baik.


.

đź–‹rinibahagiaa.blogspot.com

Perpisahan Membuat Kita Bersatu

Di sebuah desa di daerah Jawa, terdapat pasangan suami istri yang memiliki dua orang anak perempan yang bernama Sari dan Sarah. Pasangan sua...