Pandemi Melanda Apakah
Ini Sebuah Nestapa?
Oleh: Yulia Sulistiyo Rini
(Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga
Islam IAIN Fattahul Muluk Papua)
Ku lihat ibu pertiwi,
Sedang bersusah hati,
Air Matanya berlinang.
Penggalan lirik tersebut seakan sesuai
untuk menampakkan kepiluan Negara Indonesia saat ini. Bahkan tak hanya Indonesia, kini dunia pun seakan diselimuti
oleh awan kelabu yang amat pekat. Kehidupan seakan terhenti, bak seonggok batu besar yang tergeletak bersama
lumut yang semakin lama kian menutupi permukaan batu tersebut.
Analogi sederhananya
seonggok batu besar tersebut adalah bumi kita ini dan lumut yeng menyelimutinya
adalah virus yang tengah merongrong dunia saat ini yaitu corona virus (COVID-19).
Virus corona berasal dari bahasa latin ‘corona’ yang berarti mahkota, sebab
bentuknya yang serupa dengan mahkota. Virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan,
China pada Desember 2019 lalu sebelum akhirnya menjadi pandemi dunia. Virus ini
dengan mudahnya menyerang manusia dengan gejala ringan namun mematikan, tak kenal
pria maupun wanita, tua renta ataupun balita, kaya maupun hamba sahaya.
Indonesia merupakan
salah satu negara yang terkena dampak pandemi Covid-19 salah satunya di ufuk
timur bumi cendrawasih yang saya tinggali ini ya disini Papua lah tempatnya. Sebagai
masyarakat sekaligus mahasiswa yang tinggal dan menetap disini, kekhawatiran tak
henti-hentinya menghampiri terlebih saat peningkatan kasus positif di Jayapura yang
semakin marak. Hal tersebut seakan mengekang diri serta menghentikan segala
aktivitas di luar ruangan (outdoor).
Covid-19 memaksa
seluruh instansi pemerintahan, pendidikan, sektor perekonomian serta sektor lainnya
di Jayapura untuk menata diri agar mampu menyelarasi dinamika pada masa pandemi
ini yaitu pemberlakuan lockdown. Tidak hanya wilayah perkotaan seperti
di Jayapura, pembatasan sosial berskala besar juga digalakkan di wilayah kabupaten,
distrik bahkan hingga ke pedesaan.
Semua kalangan kini
merasakan derai nestapa yang tak kunjung ada akhirnya. Segala aktivitas kini
tidak dapat dilakukan secara maksimal, hal tersebut dilakukan sebagai upaya pemberlakuan
social distancing guna mencegah penyebaran pandemi ke seluruh wilayah
tanpa terkecuali.
Keadaan di Kota Jayapura
hingga Kabupaten Keerom kini berubah hingga 360 derajat. Perubahan yang sangat
signifikan kini telah memobilisasi berbagai ranah penting di wilayah ini,
seperti halnya:
1. Instansi pendidikan sebagai sarana menuntut
ilmu
generasi muda kini tak aktif lagi
Sebagai mahasiswa,
hal yang paling dirasakan yaitu pada saat jadwal perkuliahan yang awalnya
berlangsung secara tatap muka kini telah berubah menjadi tatap layar kamera (online).
Aktivitas belajar mengajar di kampus kini telah menjadi study from home.
Buku-buku online alias e-book serta berbagai jurnal online kini menjadi
primadona mahasiswa sebagai penunjang tugas perkuliahan, kini smartphone pun
telah menjadi genggaman wajib bagi setiap mahasiswa tak hanya untuk chatting
namun sebagai media perkuliahan.
2. Pembatasan pelayanan di berbagai sektor perekonomian
Sektor ekonomi pun
terkena imbas akibat adanya pandemi, misalnya supermarket, minimarket,
pertokoan hingga toko kelontong kini telah diberlakuan pembatasan jadwal
pelayanan transaksi jual-beli, waktu berjualan yang awalnya dari pagi hingga
malam kini beralih hanya sampai siang hari dan maksimal hingga petang. Tak
hanya itu, pasar yang sebelumnya menjadi tempat sumber mata pencaharian
masyarakat, kini tak lagi ramai. Akibatnya banyak penjual mengalami penurunan
omset yang sangat drastis.
3. Tidak diperkenankan melakukan mudik
Banyak kawan saya
yang sebagian besar mahasiswa dan tinggal diluar Jayapura kini tidak bisa
melaksanakan ibadah puasa bahkan hari raya idul fitri bersama keluarga, tentu karena
pandemi ini lah sebabnya. Pemerintah menghimbau agar melakukan social
distancing karena dikhawatirkan mereka dapat membawa virus hingga ke
kampung halaman, sehingga perlu adanya pencegahan tersebut.
4. Menjalani Ramadhan from home
Sebelum pandemi COVID-19
melanda, apabila datang bulan suci Ramadhan semua umat muslim menyambut dengan
penuh rasa syukur dan suka cita. Kini keadaan tak lagi sama baik di kota maupun
di desa, rutinitas bulan Ramadhan hanya dilakukan di rumah. Tidak ada tarawih
di masjid, tidak ada tadarus ramai-ramai, bukber hingga sahur on the
road kini pun telah ditiadakan. Seyogianya aktivitas dilakukan di rumah
masing-masing dan tidak ada interaksi sosial.
Sebagian besar masyarakat ada yang ber-statement
kenapa sih semuanya harus dilakukan di rumah? Kita kan belum terkena virus corona?
Sebagai mahasiswa sekarang kita tidak bisa berkumpul bersama keluarga dong?
Segala sesuatu yang dilakukan pasti memiliki andil
dalam pemberlakuannya, hal tersebut diharapkan mampu untuk mencegah penyebaran COVID-19
yang semakin pesat. Dapat dibayangkan jika ditengah pandemi ini aktivitas tetap
berjalan normal tidak ada physical distancing, pekerjaan dan proses
belajar mengajar tetap dilakukan secara tatap muka, apakah hal tersebut tidak
membuat peluang penyebaran virus semakin besar? Lantas apabila perilaku tersebut
dilakukan secara kontinu apakah tidak mungkin kita yang mulanya sehat dapat
terjangkit virus?
Sesungguhnya Allah SWT telah menjawab segala
sesuatu perkara melalui firmannya: “Bila jadi engkau membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu dan bisa jadi engkau menyukai sesuatu padahal ia
amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S.
Al-Baqarah ayat 216).
Diberikannya
himbauan serta aturan diharapkan khalayak mampu untuk patuh
terhadapnya. Sebelum diberlakukannya pembatasan interaksi sosial hingga stay
from home ini tentu telah ada hal-hal penting lainnya yang telah
dipertimbangkan oleh pemerintah, baik pusat hingga daerah.
“Sesungguhnya
pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang
penyabar dan banyak bersyukur”. (Q.S. Ibrahim ayat 5).
Allah SWT menghendaki
kepada kita semua untuk senantiasa bersabar, seperti halnya menghadapi pandemi
saat ini. Mari tingkatkan kualitas ibadah kita, walau stay at home
jangan jadikan ibadahnya belum-belum. Sebagai mahasiswa ayo tingkatkan
integritas diri dengan senantiasa semangat menjalani perkuliahan secara online.
Kita semua akan mampu melewati masa sulit ini dengan penuh solidaritas melawan pandemi
yang tengah melanda dengan stay at home, study from home and work from
home. Sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat).
Stay healthy and
keep strong :)
.
đź–‹rinibahagiaa.blogspot.com