Rabu, 31 Januari 2018

LIMA (yang) Hilang

Karya: Yulia Sulistiyo Rini

Setiap orang pasti memiliki yang namanya teman bahkan seorang sahabat yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Begitupula dengan Rita, ia adalah seorang anak yang baik serta sangat ramah kepada siapapun tak heran jika ia memiliki banyak teman karena sikapnya yang sangat mudah untuk bergaul.

Rita kini tengah mengenyam pendidikan di sekolah menengah pertama, hari-hari Rita penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan. Hal tersebut Rita rasakan karena dirinya memiliki sahabat-sahabat yang sangat ia sayangi yaitu Utari, Dinda, Anita dan Luna. Rita sangat menyayangi mereka, karena merekalah yang selalu menemani Rita dalam suka maupun duka serta merekalah tempat mencurahkan segala keluh kesah yang sering Rita alami.

Saat berada disekolah pasti mereka selalu meluangkan waktu untuk berkumpul bersama di bawah pohon rambutan kesayangan mereka serta saling berbagi cerita antara satu sama lain baik itu masalah tugas sekolah, masalah keluarga bahkan masalah percintaan mereka. Ya.. masalah percintaan mereka pasti selalu mereka bicarakan maklum karena mereka masih remaja alias masih ABG hahaha..

Kemanapun mereka pergi pasti selalu bersama, bak lem dengan perangko yang tak bisa terpisahkan. Karena sangat eratnya hubungan persahabatan mereka, mereka sampai punya sebutan unik untuk genk mereka yaitu “RUDAL”.

Ya benar genk mereka bernama RUDAL. Rudal itu adalah singkatan dari nama mereka berlima, Rita, Utari, Dinda, Anita dan Luna lucu kan hahaha.. memang sedikit alay yah mereka tapi hal-hal konyol itu yang membuat persahabatan mereka semakin erat dan lebih berwarna. Hampir setiap saat mereka selalu mengatakan harapan mereka yaitu semoga persahabatan mereka tetap terjaga walaupun mereka telah terpisah antara satu sama lain.

***
Lima yang hilang

Suatu hari ketika mereka sedang asyik bercerita bersama di kelas, tiba-tiba amarah Rita meledak. Hal itu berawal akibat masalah kecil yaitu tingkah Luna yang sangat lebay dalam berbicara serta bertingkah sangat centil. Nah tak disangka hal itu membuat Rita tak suka melihatnya dan membuatnya sangat kesal.

“Luna! Bisa gak sih cara bicaramu biasa aja gak usah lebay gitu. Jijik tau liatnya!” (ujar Rita dengan nada keras)

“Eh..lebay apanya coba ihh.. kamu aja yang sensitif banget. Kalo gak suka ya gak usah dilihat dong! (jawab Luna)

“Luna sadar dong biasanya kamu tuh gak kayak gini. Kamu kenapa sih?” (kata Rita lagi)

“Kamu memang gak suka sama aku kan makanya kamu mencari kesalahanku terus! Oke ya udah aku juga gak butuh kamu kok!” (jawab Luna dengan marah dan pergi meninggalkan kelas)

Rita sangat kesal dan marah kepada Luna, ia tak menyangka persahabatan mereka dapat rusak hanya karena permasalahan kecil yang harusnya dapat diselesaikan secara baik-baik. Namun disaat Rita begitu kesal dan sangat marah, seketika sahabatnya Utari, Dinda dan Anita langsung menenangkan dan meredakan amarah Rita.

“Sudahlah Rita, sabar aja nanti aku akan coba bicara baik-baik dengan Luna”. (kata Dinda)

“Tapi Din…kamu liat kan tadi gimana kelakuannya! Aku sebel banget sama dia gak biasanya dia kayak gitu”. (jawab Rita)

“Iya sih Rita, aku juga ngerasa dia berubah banget tapi udahlah jangan dimasukin kehati kata-katanya Luna tadi”. (kata Utari sambil menenangkan Rita)

“Bener banget loh Rita apa yang dibilang Dinda sama Utari, nanti biar kita coba pelan-pelan nasehatin Luna”. (sambung Anita)

“Hmm.. ya udah lah terserah kalian”. (jawab Rita)

Disaat bel istirahat berbunyi Dinda dan Utaripun segera menemui Luna dan menanyakan perubahan yang terjadi pada dirinya serta mencoba menasehatinya.

“Luna.. maaf nih sebelumnya aku mau nanya, kamu tadi kenapa sih? Soalnya gak biasanya kamu bertingkah kayak gitu.” (Tanya Dinda lembut)

“Aku kenapa sih dimata kalian? Aku lebay iya? Aku centil? (jawab Luna bernada keras)

“Aku gak bilang kalau kamu lebay ataupun centil, tapi kita itu berlima udah sahabatan lama. Yah otomatis kita udah tau dong sifat kamu seperti apa”. (kata Dinda)

“Iya Luna bener kata Dinda. Kita Cuma gak mau hanya karena permasalahan kecil kayak gini persahabatan kita berlima rusak”. (sambung Utari)

“Okay. Maaf kalau aku salah, maaf kalau aku tadi lebay, centil dan bersifat kekanak-kanakkan. Sekali lagi aku minta maaf kalau kata-kataku udah kasar ke kalian”. (kata Luna menyesal)

“Iya Luna gak papa kok. Tapi coba deh kamu ngomong baik-baik sama Rita, kasihan tuh dia”. (ujar Dinda)

“Iya nanti aku bakal minta maaf sama Rita. Tadi aku keras banget sama dia”. (jawab Luna)

“Nah gitu dong. Ini baru Luna sahabat kita”. (ujar Utari sambil tersenyum)

Akhirnya Luna menyadari kesalahan yang telah ia perbuat setelah mendapat nasehat dari sahabatnya Dinda dan Utari. Tak berapa lama kemudian Luna menghampiri Rita yang sedang duduk sendirian dibawah pohon rambutan kesayangan mereka.

“Rita.. aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu”. (kata Luna)

“Apa? Ya udah ngomong aja kali gak usah basa-basi gitu”. (jawab Rita dengan cuek)

“Aku minta maaf ya Rita, aku nyesel banget. Tadi aku udah kasar sama kamu. Aku sadar aku gak seharusnya berbuat kayak gitu sama kamu. Kita sahabatan iu tudah lama, aku gak mau persahabatan kita hancur. Kamu mau kan maafin aku?” (kata Luna menyesal)

“Iya Luna. Aku maafin kamu kok. Aku juga minta maaf tadi udah ngebentak kamu”. (jawab Rita sambil tersenyum)

“Makasih ya Rita.. kamu memang sahabat baikku”. (kata Luna sambil tersenyum dan memeluk Rita)

Hubungan persahabatan mereka yang awalnya renggang pun kini kembali membaik, dan semenjak kejadian itu tak pernah ada masalah serius yang mereka hadapi. Walaupun ada masalah pasti mereka akan bicarakan baik-baik secara kekeluargaan. Rita sangat menyayangi mereka begitu pula sahabatnya. Tak ada yang namanya rahasia diantara mereka, jika salah satu diantara mereka mengalami kesulitan pasti yang lain akan segera membantu.

Hari terus berganti dan tak terasa mereka telah lulus dari jenjang pendidikan pertama. Dan mereka akan bersiap untuk menyongsong pendidikan selanjutnya yaitu sekolah menengah atas. Rita, Dinda, Utari dan Azizah memilih sekolah yang yang sama sementara Luna memilih sekolah yang berbeda. Nah akibat perbedaan sekolah ini mereka jarang sekali bertemu bahkan bisa dibilang tak pernah bertemu.

Hanya sekali Rita bertemu dengan Luna dijalan namun mereka tak saling tegur bahkan seperti orang tak saling kenal. Pengalaman tersebut pun tak hanya dialami oleh Rita namun Dinda, Utari dan Azizah pun mengalami pengalaman yang sama saat bertemu Luna.

Rita sering melamun memikirkan hal yang terjadi tersebut, ia merasa Luna kini telah melupakan persahabatan mereka dikarenakan telah memiliki sahabat baru yang jauh lebih baik di sekolahnya.
“Apa yang terjadi pada Luna sebenarnya? Kenapa ia cuek dan menganggap bahwa ia tak kenal padaku dan sahabatku yang lain?” (bisik Rita dalam hati). Rita tak pernah berpikir bahwa sahabat yang sangat ia sayangi kini telah melupakan dirinya.

Seiring berjalannya waktu, lama-kelamaan cerita persahabatan merekapun berubah. Rita merasa sahabat yang ia sayangi dan ia banggakan telah tiada. Persahabatan yang telah mereka jalin dari SMP kini sekejab hilang begitu saja bahkan seakan tak pernah ada.

Hingga kini Rita tak pernah tau mengapa sikap Luna berubah cuek seperti itu. Begitu pun dengan sahabat Rita yang lain seperi Dinda, Utari dan Anita yang kini telah memiliki sahabat masing-masing. Rita merasa sangat sedih dengan keadaan yang telah terjadi mengapa sahabat baru dapat menyingkirkan sahabat lama secepat itu. Padahal sahabat baru hanyalah orang tak dikenal yang tiba-tiba datang dan merusak segalanya. Tetapi dibalik itu semua, Ritapun sadar bahwa setiap orang pasti ingin memiliki jalan hidupnya masing-masing. Begitu pula dengan dirinya yang kini telah ditinggalkan oleh sahabat yang sangat ia sayangi. Kini Rita tak pernah menyesal dengan keadaan yang telah terjadi karena walau bagaimanapun ia pernah merasakan hangatnya menjalin persahabatan bersama Dinda, Utari dan Azizah. Setidanya hidup Rita dahulu pernah berwarna karena kehadiran sahabat yang sangat ia sayangi itu walupun kini mereka telah pergi meninggalkan dirinya.

HIJRAHKU BUKAN KARENA ALLAH


Karya: Yulia Sulistiyo Rini

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Setiap orang pasti memiliki yang namanya masa lalu, baik ataupun buruknya masa lalu mereka  janganlah dipermasalahkan. Sebab, tidak ada manusia yang sempurna karena setiap manusia memiliki kekurangan dan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Namun jangan salah jika kekurangan tersebut dapat membuat mereka menjadi seseorang yang istimewa di mata Allah SWT.

Hai sahabat hijrah, semoga kalian selalu dilindungi oleh Allah SWT. Aamiin…

Aku telah merasakan betapa besarnya kekuasaan Allah terhadap diriku. Tak ada yang mengira bahwa seseorang seperti diriku ini memiliki masa lalu yang sangat menyedihkan. Ya sangat menyedihkan dan bahkan tak ada yang mengira bahwa aku yang sekarang ini sangat berbeda dengan yang dahulu.

Ya inilah aku. Aku memang tinggal di lingkungan yang mayoritas bukan Islam 100%. Bahkan aku memiliki keluarga besar yang mayoritas non muslim. Aku tidak seperti oang lain yang sangat taat dan dekat dengan tuhan.

Dari kecil aku sangat dekat dengan laki-laki sampai sudah seperti keluarga, aku selalu berteman dengan yah taulah kalian genk yang paling berkuasa gitu.. tak pernah shalat lima waktu, tidak pernah mengaji bahkan selalu bersifat keras dan kasar terhadap orang tua.

Aku menganggap bahwa aku itu seperti penguasa yang harus ditaati, bersifat keras kepala yang bilamana ada orang yang menyalahkannku aku akan mamarahi dan memukulnya.

Aku berteman dengan laki-laki yang memang jauh dari agama sehingga akupun ikut melalaikan agama. Aku saja besekolah disekolah dasar yang mayoritas temanku non muslim. Nah kebayang dong gimana rasanya tinggal dilingkungan keluarga, teman bahkan masyarakat yang non muslim.. hal itu membuat aku sangat jauh sekali dari kata taat dalam beragama.

Aku selalu membuat teman perempuanku menangis, selalu menjadi bahan pembicaraan orang disekolah. Hampir setiap hari aku selalu menemui kepala sekolah dikarenakan kasus memukuli teman sendiri.
Kenakalanku yang lain yaitu selalu pergi bermain dan pulang mendekati magrib walaupun aku masih anak sekolah dasar tapi kenakalanku jangan ditannya sangatlah membuat orang menggelengkan kepalanya.  Hingga aku mendapat julukan yang sangat ekstrim yaitu “cewek preman”.

Waktu terus berjalan dengan keadaan hidupku yang jauh dari agama. Hingga aku mengalami sebuah peristiwa dimana seorang ayah yang selalu ada buatku, selalu menemani dan membimbingku pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Aku sempat berkata bahwa Allah sangat jahat dan tidak menyayangi diriku. Aku tak pernah bertemu dengan kakak kandungku karena ia telah lebih dahulu meninggal sejak aku belum dilahirkan dan kemudian ayahku yaitu seseorang yang aku sayangi, seseorang yang sangat aku kagumi dan aku jadikan panutan hiduppun telah meninggalkanku. Seandainya kakak dan ayahku masih ada pasti hidupku dan mamaku sangat bahagia.

Sempat aku menyalahkan takdir bahwa Allah tak adil padaku namun seketika akupun sadar bahwa Allah punya cara terbaik untuk membuat aku dan mama bahagia. Aku telah memutuskan untuk melanjutkan jenjang menengah pertama di Tsanawiyah. Tak ada yang dapat menduganya dahulu saat aku masih kecil aku sangat menginginkan setiap tingkatan sekolahku adalah negeri namun, takdir berkata lain. Mungkin ini awal kehidupannku yang sesungguhnya.

Saat aku telah berada di jenjang pendidikan Tsanawiyah, aku memang belum mengenakan hijab kecuali hanya kesekolah. Yah maklum karena aku memang mantan preman kata teman-temanku. Aku selalu keluar rumah dengan rambut tergerai, dan selalu kumpul dengan laki-laki. Ditambah lagi aku memiliki teman cewek yang memang tidak memakai hijab nah secara otomatis aku tak memakai hijab.

Karena aku mengenyam pendidikan di sekolah yang bernafaskan Islam secara langsung guru disekolahkupun menyuruhku dan beberapa temanku untuk mengenakan hijab jika keluar dari rumah. Inilah awal aku mulai mengenakan hijab walaupun atas dasar terpaksa, ya maklum lah mantan preman berhijab kan berat banget rasanya.

Tiba akhirnya akupun mulai mencoba mamakai hijab saat keluar dari rumah walalupun hanya jarang-jarang. Iya kadang pakai hijab kadang enggak. Nah tiba pada suatu ketika aku mendapatkan hidayah lewat ceramah yang disampaikan ustadku, ia mengatakan bahwa

    “Setiap wanita itu wajib hukumnya menutup aurat karena, hal tersebut merupakan perintah Allah SWT dan satu langkah seorang anak perempuan keluar dari rumahnya dengan tidak mengenakan hijab disitulah dosa baginya ditanggung oleh ayahnya”.

Akibat perkataan ustadku itu aku merasa malu dan juga sangat takut. Aku yang melakukan dosa tapi ayahku yang menanggung dosaku. Disitu aku mulai merasa bersalah jika tidak mengenakan hijab saat keluar rumah.
Inilah awal sekaligus permulaan hidupku yang baru setelah masa-masa kegelapan dalam hidupku. Dalan jalan hijrahku aku belum mengtahui apa itu hijab syar’i apalagi manfaat dari memakai hijab. Dapat dikatakan aku memakai hijab masih sangat jauh dari kata syar’i, aku memakai hijab dengan mengangkatnya sehingga dada menjadi terbuka. Lengkap rasanya karena baju yang kupakaipun sangat ketat dan aku sangat suka memakai celana jeans yang ketat pula. Dapat dikatakan aku mamakai hijab kekinian sesuai style modern yang sangat jauh dari kata syar’i.  

Aku bukanlah anak pondok pesantren yang mengatahui dan memahami ajaran agama dengan sempurna sehingga aku tak pernah tahu yang namanya hijab syar’i itu seperti apa ya aku hanya mengenakan hijab sesuai perkembangan zaman. Namun dengan tekad dan kemauanku yang besar aku tetap melanjutkan pendidikanku di sekolah yang bernafaskan Islam lagi yaitu ditingkat Aliyah. Dalam hati kecilku berkata alangkah ruginya diriku jika aku telah memulai pendidikan dengan jalur Islam kemudian aku kembali pada pendidikan negeri. Disitu aku bertekad masuk di jenjang pendidikan tingkat atas yang bernafaskan Islam agar ilmu agama yang telah aku dapatkan terus aku pertahankan serta aku perdalam.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, aku mulai mengenal teman yang yang sudah kuanggap seperti sahabat bahkan sudah seperti saudara. Mereka membimbingku dan selalu menasehatiku agar mengenakan pakaian tertutup yang sesuai dengan ajaran islam seperti gamis.

Awalnya sangat lucu bahkan sangat canggung bagiku untuk memakai gamis tersebut. Bahkan aku selalu menertawakan temanku yang memakai gamis dan aku mengatakan kau terlihat seperti ibu-ibu saat memakai gamis.

Aku percaya bahwa Allah ingin melihatku menjadi seseorang yang lebih baik dari masa laluku. Aku kembali diberikan hidayah lewat seseorang yang bahkan aku sendiri tak pernah mengenalnya ia berkata kepadaku bahwa

Hijab merupakan suatu pakaian yang menutupi seluruh tubuhmu serta dapat engkau gunakan untuk shalat tanpa harus bersusah payah mencari mukenah. Apalagi saat kau dalam keadaan sempit

Akupun merasa bersalah pada diriku sendiri. Aku memang telah menutup rambutku namun niatku menutupnya bukan karena Allah melainkan karena ikut-ikutan teman dan ikut gaya tren perkembangan zaman.

Keputusanku untuk mengubah cara berpakaianku sesuai dengan syariat Islam sangat memerlukan waktu lama hingga aku memasuki sebuah perguruan tinggi Islam di kotaku. Saat itu aku tak pernah menyangka dapat masuk diperguruan tinggi Islam padahal dahulu aku memimpikan diriku masuk perguruan tinggi negeri. Seketika aku merasa kekuasaan Allah sangatlah nyata terhadap hidupku. Allah ingin menunjukkan jalan lurusnya kepadaku, ia ingin aku semakin dekat dengan-Nya.

Dan ternyata tak disangka aku masuk di sebuah jurusan yang mayoritas wanitanya memakai pakaian syar’i inilah yang memacuku untuk berpenampilan seperti mereka. Awalnya aku hanya ingin merubah penampilanku seperti mereka yah.. bisa dibilang hijrahku hanya ikut-ikutan saja.
Pada awal aku mulai mencoba memakai pakaian syar’i sangatlah membuatku tak nyaman bahkan gerah serta sangat merepotkan. Namun Allah kembali memperlihatkan kekuasaan-Nya kepadaku, ia memberikanku teman-teman yang sangat baik serta selalu membimbing dan selalu berbagi cerita pengalaman hijrah mereka kepadaku.

Tak disangka kini aku telah menjadi wanita berhijab syari yang telah mengalami perjalanan hijrah yang sangat berat serta sangat berbeda dengan orang-orang lain diluar sana. Kini aku telah meninggalkan semua kebiasaan dan perilaku buruk yang aku lakukan dahulu. Kini aku telah menjalani setiap hal yang aku lakukan dengan ikhlas bahkan mengenakan hijab syar’ipun aku telah terbiasa dan sangat nyaman bagiku. Aku tak pernah menganggap bahwa diriku lebih baik dari orang lain, yang aku inginkan hanyalah saling berbagi sedikit hal yang aku ketahui. Walau niat awal hijrahku karena ikut-ikutan teman dan tren perkembangan zaman namun sekarang niat hijrah yang aku lakukan kini murni karena Allah SWT.

Aku telah mengalami pelajaran hidup bahwa setiap orang itu memiliki jalan hidupnya masing-masing. Apapun yang dianggap baik belum tentu dimata Allah bernilai baik pula. Apapun yang telah Allah ambil dari kehidupan setiap orang, itu semua semata-mata karena Allah ingin menggantinya dengan sebuah hal yang lebih baik lagi.

Aku tak pernah menyesal dengan semua hal yang telah terjadi dalam hidupku. Aku hanya fokus 
menyelesaikan pendidikan strata satuku dengan gelar sarjana hukum, lebih mendalami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama serta berusaha untuk teguh dalam istiqomah berhijrahku. Tak lupa aku memberikan sedikit ilmu serta manfaat kepada orang-orang disekitarku.

Sesungguhnya hal terberat yang kualami hingga kini ada Istiqomah. Karena iman seseorang kadang naik dan kadang turun sehingga hal yang paling sulit adalah untuk membuat hati ini teguh dalam istiqomah hijrahnya.

Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum ia merubahnya sendiri”.

Aku tau setiap jalan hidup kita telah ditentukan oleh Allah SWT namun tak ada salahnya jika kita berusaha untuk merubah dan memperbaiki jalan hidup kita.

Sesungguhnya Allah SWT selalu bersama orang-orang yang sabar”.

Sahabat hijrah yang aku sayangi.. Ingatlah bahwa Allah SWT memberikan hidayah terhadap orang yang ia sayangi tak mengenal bagaimana keadaan seseorang tersebut dimasa lalu, yang Allah inginkan seseorang tersebut dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Ini kisah nyata perjuangan hijrahku tak peduli apa pendapat orang lain terhadap diri kita namun hal yang terpenting adalah selama kita berada di jalan lurus Allah SWT Insya Allah semua hal yang kita lakukan akan diridhai oleh Allah.

Untuk sahabatku yang belum mengenakan hijab dimanapun engkau berada, mulailah menutup auratmu sayang.. Hijab tidak akan membuatmu menjadi tak cantik lagi, hijab tidak akan membuatmu susah dalam menjalani hidup, tetapi sebaliknya hijab akan membuatmu terlihat anggun dan sangat dihormati dimata semua orang, hijab akan membuat hidupmu terasa lebih bermanfaat baik bagi orang lain maupun untuk dirimu sendiri.

Tutuplah auratmu wahai saudariku.. Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sesungguhnya Allah SWT juga Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Insya Allah semua hal buruk yang terjadi dimasa lalumu akan diampuni oleh Allah SWT. Niscaya hijabmu akan menjadi penerang jalanmu menuju syurga.

Aamiin…Aamiin…Ya Rabbal Alamin

MIMPI ANAK JALANAN

Karya: Yulia Sulistiyo Rini

….

Kami memang miskin
Kami memang tidak punya apa-apa
Makanan kami debu dan panas
Namun, kami mempunyai mimpi
untuk menggapai bintang

Tuhan…
Di setiap do’a kami memohon
Di setiap do’a kami berharap
Agar mimpi kami dapat tercapai

Kami tidak ingin rumah yang mewah
Kami tidak ingin mobil yang mewah
Kami tidak menginginkan semua itu

Namun…
Keinginan kami sederhana
Bersekolah, itulah yang kami inginkan
Kami ingin mengenyam pendidikan
Dapat menggapai cita-cita kami
setinggi bintang

Tuhan…
Jadikan kami bintang yang bersinar terang
Walau kecil terlihat, walau seakan
tak berarti
Namun sinarnya dapat menerangi
gelapnya bumi

.
đź–‹rinibahagiaa.blogspot.com

MIMPI SEORANG ANAK JALANAN

Karya: Yulia Sulistiyo Rini

Hidup itu memang kejam, begitu banyak orang yang menderita karena kehidupan. Masih banyak orang yang belum mendapatkan kehidupan yang layak dalam hidupnya, terutama anak-anak yang tidak mengenal yang namanya pendidikan. Anak-anak seharusnya mendapatkan pendidikan yang layak karena mereka merupakan generasi masa depan bangsa. Tugas anak-anak adalah belajar namun berbeda dengan seorang anak laki-laki yang satu ini. Namanya bintang, ia tidak pernah mengetahui apa itu pendidikan yang ia tahu adalah bekerja, bekerja, dan bekerja. Ia bekerja setiap hari, ia sudah menjadi tulang punggung dikeluarganya karena ayah dan ibunya telah meninggal dunia sejak ia berusia 3 tahun. Sehari-hari ia bekerja sebagai pengamen untuk menghidupi kehidupannya dan kedua adiknya yang masih kecil. Nasib Bintang sangat malang, untuk makan sehari-hari saja sulit apalagi untuk bersekolah. Hingga sekarang Bintang telah berusia 11 tahun, namun hari-harinya tetap saja dihabiskan dengan mengamen.

***
Mimpi anak jalanan

Matahari telah menampakkan sinarnya itu pertanda bahwa hari telah dimulai dan berarti waktunya Bintang untuk mencari penghidupan. Sama seperti hari-hari sebelumnya asap kendaraan, polusi, debu dan panas matahari menjadi makanan sehari-hari Bintang. Tak pernah lelah ia mencari sesuap nasi untuk dirinya dan kedua adiknya. Waktu begitu cepat berlalu tidak terasa hari mulai sore, Bintangpun istirahat duduk dibawah pohon menghitung hasil pendapatannya hari ini. Tiba-tiba datang seorang perempuan muda cantik dan berhijab pula, iapun menyapa Bintang yang sedang duduk sendirian di bawah pohon.

“Hai, Assalamu’alaikum sedang apa dek?” (menyapa dan tersenyum)

“Eh…kak…” (Bintang gugup) “Wa’alaikum salam”. (kata Bintang)

“Gak usah gugup gitu santai aja, nama kamu siapa dek?” (kata perempuan itu)

“Namaku Bintang kak, kakak sendiri namnya siapa?” (kata Bintang)

“Nama kakak Anisa, kakak tadi gak sengaja lewat sini terus lihat kamu duduk sendirian. Kamu pengamen ya dek?” (kata Anisa)

“Oh gitu, iya kak aku pengamen. Kakak gak usah dekat-dekat, aku kan bau!” (Ujar Bintang)

“Lho gak papa kak, memangnya kenapa dek? Kakak tidak seperti itu dek orangnya”. (Ucap Anisa)

      Anisa merasa penasaran dengan Bintang si pengamen kecil itu, ia merasa bahwa Bintang adalah anak yang baik dan pekerja keras tidak seperti anak-anak lainnya. Anisapun melanjutkan pembicaraannya dengan Bintang dan semakin ingin mengenalnya lebih dekat.

“Umurmu berapa dek, kenapa kamu tidak bersekolah?” (kata Anisa)

“Umurku 11 tahun kak, bagaimana aku bisa sekolah kak untuk makan saja aku susah”. (jawab Bintang)

“Memangnya orang tuamu dimana dek?” (kata Anisa)

“Orang tuaku sudah meninggal dunia sejak aku berusia 3 tahun, jadi aku yang menjadi tulang punggung keluarga yaitu bekerja sebagai pengamen untuk menghidupi diri sendiri dan kedua adikku” (kata Bintang sabar)

“Maaf ya dek kakak tidak tau jika malang begini nasibmu”. (kata Anisa)

“Iya kak gak papa, ini sudah ujian Allah aku harus tegar”. (kata Bintang)

“Iya dek, yang sabar ya”. (terharu sambil menghibur Bintang)

       Waktu terus berjalan, mereka berdua masih mengobrol. Anisa semakin terharu mendengar cerita si anak jalanan yang bernama Bintang itu.

“Bintang, kakak mau nanya apa sih mimpi dan keinginan kamu sampai saat ini?” (tanya Anisa)

“Aku memang miskin, jelek dan juga bau. Makanan sehari-hariku panas, asap dan debu. Tapi aku tak minta rumah mewah, bergelimang harta dan bukan mobil yang mewah. Namun mimpiku cuma satu kak yaitu aku ingin bersekolah mengenyam yang namanya pendidikan dapat menggapai cita-cita. Sederhana kan kak, setiap malam dalam shalatku aku berdo’a kepada Allah SWT dengan bersimbah air mata berharap Allah akan menjawab dan mengabulkan do’aku tapi aku tidak putus asa kak ini malah memacu aku untuk semakin kuat untuk berjuang dan terus berdo’a. Aku yakin pasti suatu saat Allah akan mengabulkan do’aku”. (jawab Bintang)

“Subhanallah, sungguh kuat dan tegar dirimu Bintang. Kakak yakin do’amu akan dikabulkan oleh Allah. Allah akan membuat semua indah pada waktunya, sesungguhnya Allah selalu bersama orang-orang yang sabar”. (nasehat Anisa sambil memeluk Bintang dan menangis)

       Anak jalanan juga mempunyai mimpi, mimpi mereka sangat sederhana namun sungguh bermakna. Di dunia ini banyak yang tidak sesuai dengan harapan. Meskipun mereka hanya orang miskin, orang yang tidak punya apa-apa, sehari-hari terpapar panas dan debu. Namun mereka tetap tegar dan senang menghadapi hidup di dunia ini.

MALAM

Malam mengajarkan banyak hal dalam  kehidupan. (i) Malam  yang mudah  berlalu. - Maknanya; Kesulitan hari ini akan terganti  bahagia   esok ...