Karya: Yulia Sulistiyo Rini
Setiap orang
pasti memiliki yang namanya teman bahkan seorang sahabat yang sudah dianggap
seperti keluarga sendiri. Begitupula dengan Rita, ia adalah seorang anak yang baik serta sangat ramah kepada siapapun tak heran jika ia memiliki banyak teman karena sikapnya yang sangat
mudah untuk bergaul.
Rita kini tengah mengenyam pendidikan di sekolah menengah pertama, hari-hari Rita penuh dengan keceriaan dan kebahagiaan. Hal tersebut Rita rasakan karena dirinya
memiliki sahabat-sahabat yang sangat ia sayangi yaitu Utari, Dinda, Anita dan Luna.
Rita sangat menyayangi mereka, karena merekalah yang selalu menemani Rita dalam
suka maupun duka serta merekalah tempat mencurahkan segala keluh kesah yang sering Rita alami.
Saat berada disekolah pasti mereka selalu meluangkan waktu untuk berkumpul bersama di bawah pohon rambutan
kesayangan mereka serta saling berbagi cerita antara satu sama lain baik itu
masalah tugas sekolah, masalah keluarga bahkan masalah percintaan mereka. Ya..
masalah percintaan mereka pasti selalu mereka bicarakan maklum karena mereka
masih remaja alias masih ABG hahaha..
Kemanapun mereka pergi pasti selalu bersama, bak lem dengan perangko yang tak bisa terpisahkan. Karena sangat eratnya
hubungan persahabatan mereka, mereka sampai punya sebutan unik untuk genk mereka
yaitu “RUDAL”.
Ya benar genk mereka bernama RUDAL. Rudal itu adalah singkatan dari nama mereka berlima, Rita, Utari, Dinda, Anita dan Luna lucu kan hahaha.. memang sedikit alay yah
mereka tapi hal-hal konyol itu yang membuat persahabatan mereka semakin erat
dan lebih berwarna. Hampir setiap saat mereka selalu mengatakan harapan mereka
yaitu semoga persahabatan mereka tetap terjaga walaupun mereka telah terpisah
antara satu sama lain.
***
Lima yang hilang
Suatu hari
ketika mereka sedang asyik bercerita bersama di kelas, tiba-tiba amarah Rita
meledak. Hal itu berawal akibat masalah kecil yaitu tingkah Luna yang sangat
lebay dalam berbicara serta bertingkah sangat centil. Nah tak disangka hal itu
membuat Rita tak suka melihatnya dan membuatnya sangat kesal.
“Luna! Bisa gak sih cara bicaramu biasa aja gak usah
lebay gitu. Jijik tau liatnya!” (ujar Rita dengan nada keras)
“Eh..lebay apanya coba ihh.. kamu aja yang sensitif banget. Kalo gak
suka ya gak usah dilihat dong! (jawab Luna)
“Luna sadar dong biasanya kamu tuh gak kayak gini.
Kamu kenapa sih?” (kata Rita lagi)
“Kamu memang gak suka sama aku kan makanya kamu mencari
kesalahanku terus! Oke ya udah aku juga gak butuh kamu kok!” (jawab Luna
dengan marah dan pergi meninggalkan kelas)
Rita sangat
kesal dan marah kepada Luna, ia tak menyangka persahabatan mereka dapat rusak
hanya karena permasalahan kecil yang harusnya dapat diselesaikan secara baik-baik.
Namun disaat Rita begitu kesal dan sangat marah, seketika sahabatnya Utari, Dinda dan
Anita langsung menenangkan dan meredakan amarah Rita.
“Sudahlah Rita, sabar aja nanti aku akan coba bicara baik-baik
dengan Luna”. (kata Dinda)
“Tapi Din…kamu liat kan tadi gimana kelakuannya! Aku sebel
banget sama dia gak biasanya dia kayak gitu”. (jawab Rita)
“Iya sih Rita, aku juga ngerasa dia berubah banget tapi udahlah jangan dimasukin
kehati kata-katanya Luna tadi”. (kata Utari sambil menenangkan Rita)
“Bener banget loh Rita apa yang dibilang Dinda sama Utari, nanti biar
kita coba pelan-pelan nasehatin Luna”. (sambung Anita)
“Hmm.. ya udah lah terserah kalian”. (jawab Rita)
Disaat bel
istirahat berbunyi Dinda dan Utaripun segera menemui Luna dan menanyakan
perubahan yang terjadi pada dirinya serta mencoba menasehatinya.
“Luna.. maaf nih sebelumnya aku mau nanya, kamu tadi kenapa sih?
Soalnya gak biasanya kamu bertingkah kayak gitu.” (Tanya Dinda lembut)
“Aku kenapa sih dimata kalian? Aku lebay iya? Aku centil?
(jawab Luna bernada keras)
“Aku gak bilang kalau kamu lebay ataupun centil, tapi kita
itu berlima udah sahabatan lama. Yah otomatis kita udah tau dong sifat
kamu seperti apa”. (kata Dinda)
“Iya Luna bener kata Dinda. Kita Cuma gak mau hanya karena
permasalahan kecil kayak gini persahabatan kita berlima rusak”. (sambung Utari)
“Okay. Maaf kalau aku salah, maaf kalau aku tadi lebay, centil dan
bersifat kekanak-kanakkan. Sekali lagi aku minta maaf kalau kata-kataku udah
kasar ke kalian”. (kata Luna menyesal)
“Iya Luna gak papa kok. Tapi coba deh kamu ngomong
baik-baik sama Rita, kasihan tuh dia”. (ujar Dinda)
“Iya nanti aku bakal minta maaf sama Rita. Tadi aku keras banget
sama dia”. (jawab Luna)
“Nah gitu dong. Ini baru Luna sahabat kita”. (ujar Utari
sambil tersenyum)
Akhirnya Luna
menyadari kesalahan yang telah ia perbuat setelah mendapat nasehat dari
sahabatnya Dinda dan Utari. Tak berapa lama kemudian Luna menghampiri Rita yang
sedang duduk sendirian dibawah pohon rambutan kesayangan mereka.
“Rita.. aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu”. (kata Luna)
“Apa? Ya udah ngomong aja kali gak usah basa-basi gitu”.
(jawab Rita dengan cuek)
“Aku minta maaf ya Rita, aku nyesel banget. Tadi aku udah kasar
sama kamu. Aku sadar aku gak seharusnya berbuat kayak gitu sama kamu. Kita
sahabatan iu tudah lama, aku gak mau persahabatan kita hancur. Kamu mau kan
maafin aku?” (kata Luna menyesal)
“Iya Luna. Aku maafin kamu kok. Aku juga minta maaf tadi udah
ngebentak kamu”. (jawab Rita sambil tersenyum)
“Makasih ya Rita.. kamu memang sahabat baikku”. (kata Luna sambil
tersenyum dan memeluk Rita)
Hubungan
persahabatan mereka yang awalnya renggang pun kini kembali membaik, dan semenjak
kejadian itu tak pernah ada masalah serius yang mereka hadapi. Walaupun
ada masalah pasti mereka akan bicarakan baik-baik secara kekeluargaan. Rita
sangat menyayangi mereka begitu pula sahabatnya. Tak ada yang namanya rahasia
diantara mereka, jika salah satu diantara mereka mengalami kesulitan pasti yang
lain akan segera membantu.
Hari terus
berganti dan tak terasa mereka telah lulus dari jenjang pendidikan pertama. Dan
mereka akan bersiap untuk menyongsong pendidikan selanjutnya yaitu sekolah
menengah atas. Rita, Dinda, Utari dan Azizah memilih sekolah yang yang sama
sementara Luna memilih sekolah yang berbeda. Nah akibat perbedaan sekolah ini
mereka jarang sekali bertemu bahkan bisa dibilang tak pernah bertemu.
Hanya sekali
Rita bertemu dengan Luna dijalan namun mereka tak saling tegur bahkan seperti
orang tak saling kenal. Pengalaman tersebut pun tak hanya dialami oleh Rita namun Dinda, Utari dan Azizah pun mengalami pengalaman yang sama saat bertemu Luna.
Rita sering
melamun memikirkan hal yang terjadi tersebut, ia merasa Luna kini telah melupakan
persahabatan mereka dikarenakan telah memiliki sahabat baru yang jauh lebih baik di
sekolahnya.
“Apa yang terjadi pada Luna sebenarnya? Kenapa ia cuek dan
menganggap bahwa ia tak kenal padaku dan sahabatku yang lain?” (bisik Rita
dalam hati). Rita tak pernah berpikir bahwa sahabat yang sangat ia sayangi kini telah melupakan dirinya.
Seiring berjalannya
waktu, lama-kelamaan cerita persahabatan merekapun berubah. Rita merasa sahabat
yang ia sayangi dan ia banggakan telah tiada. Persahabatan yang telah mereka
jalin dari SMP kini sekejab hilang begitu saja bahkan seakan tak pernah ada.
Hingga kini Rita tak pernah tau mengapa sikap Luna berubah cuek seperti itu. Begitu pun dengan
sahabat Rita yang lain seperi Dinda, Utari dan Anita yang kini telah memiliki
sahabat masing-masing. Rita merasa sangat sedih dengan keadaan yang telah
terjadi mengapa sahabat baru dapat menyingkirkan sahabat lama secepat itu. Padahal sahabat baru hanyalah orang tak dikenal yang tiba-tiba datang dan merusak segalanya. Tetapi dibalik itu semua, Ritapun sadar bahwa setiap orang pasti ingin memiliki jalan hidupnya masing-masing. Begitu pula dengan dirinya yang kini telah ditinggalkan oleh sahabat yang sangat ia sayangi. Kini Rita tak pernah menyesal dengan keadaan yang telah terjadi karena walau bagaimanapun ia pernah merasakan hangatnya menjalin
persahabatan bersama Dinda, Utari dan Azizah. Setidanya hidup Rita dahulu pernah berwarna karena kehadiran sahabat yang sangat ia sayangi itu walupun
kini mereka telah pergi meninggalkan dirinya.