Tia selalu membawa bekal dalam tas gendong miliknya. Karena setiap kali jam makan siang ia langsung menyantapnya. Kali ini bekal Tia sedikit berbeda. Biasanya ia hanya membawa roti dan susu, namun kali ini ia sangat semangat memasak. Ia pun membuat bekal berisi nasi daun jeruk, udang krispi, beserta telur mata sapi. Tidak hanya itu, ia pun membuat jus semangka.
"Aku semangat sekali hari ini! Menu bekalku sudah siap yipi." (ucap Tia dengan girang)
Setelah menyiapkan bekal makanan miliknya, ia pun bergegas menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor.
"Ma, Tika berangkat ke kantor dulu."
"Iya, hati-hati ya nak."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh."
Perjalanan menuju kantor cukup jauh sehingga ia berangkat lebih pagi setiap harinya.
Pagi ini seperti biasa Tia pergi bekerja dengan mengendarai sepeda motor kesayangannya.
Ia nampak menikmati setiap harinya. Senyumnya merekah, hatinya gembira, mulutnya senantiasa bernyanyi sembari menikmati suasana jalanan yang penuh pepohonan sejuk memandang.
Tiba di tengah perjalanan Tia bertemu dengan seorang anak kecil. Terlihat anak kecil itu mengenakan pakaian merah-putih yang artinya pakaian sekolah dasar. Sambil menggendong tas dan memegang plastik hitam ia duduk di pinggir jembatan. Wajah lelahnya tak bisa bohong.
Tia pun berhenti dan menghampiri anak kecil itu.
"Halo dek, mau sekolah ya? Kenapa duduk sendirian?" (dengan nada lembut Tia bertanya"
"Iya kaka. Biasa saya memang sendiri."
"Sekolahnya masih jauh ya? Mari kakak antar."
"Sekolah sudah dekat kaka, itu diseberang."
Tia melihat ke arah plastik hitam yang dipegang anak itu. Rasa penasaran Tia membuatnya melanjutkan perbincangan.
"Nama adik siapa?"
"Saya nama Pinus."
"Oh Pinus. Pinus bawa apa di kantong plastik itu?"
"Emm, ini sarapan."
"Wah, Mama Pinus sudah buat sarapan enak buat Pinus. Pinus bawa sarapan apa?" (sambil tersenyum)
"Ini kaka. Ubi bakar"
Tia terkejut dan terdiam melihat isi bekal sarapan Pinus yang ternyata sebuah ubi bakar.
"Pinus setiap hari bawa bekal ubi?"
"Iya kaka. Ubi sudah biasa. Kata Mama, ini sudah nikmat yang Tuhan beri. Jadi setiap nikmat harus kita syukuri."
Air mata Tia tidak dapat ditahan. Ia tidak kuasa menahan tangis pagi itu. Ia pun bergegas mengambil bekal miliknya dan memberikan kepada Pinus.
"Pinus, tadi kakak buat bekal lebih. Jadi ini buat pinus. Tuhan yang titipkan ini lewat kakak untuk pinus, diterima yah."
"Kaka, ini benar dari Tuhan? Terima kasih Tuhan. Pinus senang sekali." (merasa gembira)
"Pinus sarapan ya, kakak pergi dulu karena harus berangkat bekerja."
"Terima kasih kaka. Hati-hati di jalan." (melambaikan tangan dan senyum bahagia)
Tia akhirnya berpamitan dengan Pinus. Melihat Pinus gembira, Tia merasa terharu. Sepanjang jalan Tia tidak berhenti menangis. Tia merasa bahwa selama ini ia kurang bersyukur. Rupanya banyak orang di luar sana yang jauh dari kata cukup, tetapi mampu untuk tidak mengeluh.
***
Kita selalu beranggapan bahwa setiap hal selalu kurang dan tidak cukup. Rupanya itu hanya tentang cara pandang kita dalam meihat nikmat yang Tuhan berikan. Banyak nikmat yang sering kali kita abaikan. Contoh kecil adalah jika kita tidak menyukai suatu makanan, maka kita tidak akan memakannya. Dibalik itu, banyak pihak yang kita kesampingkan. Ayah yang sudah bekerja keras, Ibu yang sudah memasak makanan, bahkan banyak orang yang menginginkan untuk bisa makan dengan layak.
Dibalik cerita ini, semoga kita semua menjadi orang yang mampu untuk selalu bersyukur.
.
đź–‹rinibahagiaa.blogspot.com