Senin, 27 April 2020

Pandemi Melanda Apakah Ini Sebuah Nestapa?


Pandemi Melanda Apakah Ini Sebuah Nestapa?

Oleh: Yulia Sulistiyo Rini
(Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam IAIN Fattahul Muluk Papua)


Ku lihat ibu pertiwi,
Sedang bersusah hati,
Air Matanya berlinang.

Penggalan lirik tersebut seakan sesuai untuk menampakkan kepiluan Negara Indonesia saat ini. Bahkan tak hanya Indonesia, kini dunia pun seakan diselimuti oleh awan kelabu yang amat pekat. Kehidupan seakan terhenti, bak seonggok batu besar yang tergeletak bersama lumut yang semakin lama kian menutupi permukaan batu tersebut.

Analogi sederhananya seonggok batu besar tersebut adalah bumi kita ini dan lumut yeng menyelimutinya adalah virus yang tengah merongrong dunia saat ini yaitu corona virus (COVID-19). Virus corona berasal dari bahasa latin ‘corona’ yang berarti mahkota, sebab bentuknya yang serupa dengan mahkota. Virus ini pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada Desember 2019 lalu sebelum akhirnya menjadi pandemi dunia. Virus ini dengan mudahnya menyerang manusia dengan gejala ringan namun mematikan, tak kenal pria maupun wanita, tua renta ataupun balita, kaya maupun hamba sahaya.

Indonesia merupakan salah satu negara yang terkena dampak pandemi Covid-19 salah satunya di ufuk timur bumi cendrawasih yang saya tinggali ini ya disini Papua lah tempatnya. Sebagai masyarakat sekaligus mahasiswa yang tinggal dan menetap disini, kekhawatiran tak henti-hentinya menghampiri terlebih saat peningkatan kasus positif di Jayapura yang semakin marak. Hal tersebut seakan mengekang diri serta menghentikan segala aktivitas di luar ruangan (outdoor).

Covid-19 memaksa seluruh instansi pemerintahan, pendidikan, sektor perekonomian serta sektor lainnya di Jayapura untuk menata diri agar mampu menyelarasi dinamika pada masa pandemi ini yaitu pemberlakuan lockdown. Tidak hanya wilayah perkotaan seperti di Jayapura, pembatasan sosial berskala besar juga digalakkan di wilayah kabupaten, distrik bahkan hingga ke pedesaan.

Semua kalangan kini merasakan derai nestapa yang tak kunjung ada akhirnya. Segala aktivitas kini tidak dapat dilakukan secara maksimal, hal tersebut dilakukan sebagai upaya pemberlakuan social distancing guna mencegah penyebaran pandemi ke seluruh wilayah tanpa terkecuali.

Keadaan di Kota Jayapura hingga Kabupaten Keerom kini berubah hingga 360 derajat. Perubahan yang sangat signifikan kini telah memobilisasi berbagai ranah penting di wilayah ini, seperti halnya:
1.   Instansi pendidikan sebagai sarana menuntut ilmu
     generasi muda kini tak aktif lagi
    Sebagai mahasiswa, hal yang paling dirasakan yaitu pada saat jadwal perkuliahan yang awalnya berlangsung secara tatap muka kini telah berubah menjadi tatap layar kamera (online). Aktivitas belajar mengajar di kampus kini telah menjadi study from home. Buku-buku online alias e-book serta berbagai jurnal online kini menjadi primadona mahasiswa sebagai penunjang tugas perkuliahan, kini smartphone pun telah menjadi genggaman wajib bagi setiap mahasiswa tak hanya untuk chatting namun sebagai media perkuliahan.

2.   Pembatasan pelayanan  di berbagai sektor perekonomian
    Sektor ekonomi pun terkena imbas akibat adanya pandemi, misalnya supermarket, minimarket, pertokoan hingga toko kelontong kini telah diberlakuan pembatasan jadwal pelayanan transaksi jual-beli, waktu berjualan yang awalnya dari pagi hingga malam kini beralih hanya sampai siang hari dan maksimal hingga petang. Tak hanya itu, pasar yang sebelumnya menjadi tempat sumber mata pencaharian masyarakat, kini tak lagi ramai. Akibatnya banyak penjual mengalami penurunan omset yang sangat drastis.

3.   Tidak diperkenankan melakukan mudik
   Banyak kawan saya yang sebagian besar mahasiswa dan tinggal diluar Jayapura kini tidak bisa melaksanakan ibadah puasa bahkan hari raya idul fitri bersama keluarga, tentu karena pandemi ini lah sebabnya. Pemerintah menghimbau agar melakukan social distancing karena dikhawatirkan mereka dapat membawa virus hingga ke kampung halaman, sehingga perlu adanya pencegahan tersebut.

4.   Menjalani Ramadhan from home
  Sebelum pandemi COVID-19 melanda, apabila datang bulan suci Ramadhan semua umat muslim menyambut dengan penuh rasa syukur dan suka cita. Kini keadaan tak lagi sama baik di kota maupun di desa, rutinitas bulan Ramadhan hanya dilakukan di rumah. Tidak ada tarawih di masjid, tidak ada tadarus ramai-ramai, bukber hingga sahur on the road kini pun telah ditiadakan. Seyogianya aktivitas dilakukan di rumah masing-masing dan tidak ada interaksi sosial.

Sebagian besar masyarakat ada yang ber-statement kenapa sih semuanya harus dilakukan di rumah? Kita kan belum terkena virus corona? Sebagai mahasiswa sekarang kita tidak bisa berkumpul bersama keluarga dong?

Segala sesuatu yang dilakukan pasti memiliki andil dalam pemberlakuannya, hal tersebut diharapkan mampu untuk mencegah penyebaran COVID-19 yang semakin pesat. Dapat dibayangkan jika ditengah pandemi ini aktivitas tetap berjalan normal tidak ada physical distancing, pekerjaan dan proses belajar mengajar tetap dilakukan secara tatap muka, apakah hal tersebut tidak membuat peluang penyebaran virus semakin besar? Lantas apabila perilaku tersebut dilakukan secara kontinu apakah tidak mungkin kita yang mulanya sehat dapat terjangkit virus?

Sesungguhnya Allah SWT telah menjawab segala sesuatu perkara melalui firmannya: “Bila jadi engkau membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan bisa jadi engkau menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S. Al-Baqarah ayat 216).

Diberikannya himbauan serta aturan diharapkan khalayak mampu untuk patuh terhadapnya. Sebelum diberlakukannya pembatasan interaksi sosial hingga stay from home ini tentu telah ada hal-hal penting lainnya yang telah dipertimbangkan oleh pemerintah, baik pusat hingga daerah.

Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur”. (Q.S. Ibrahim ayat 5).

Allah SWT menghendaki kepada kita semua untuk senantiasa bersabar, seperti halnya menghadapi pandemi saat ini. Mari tingkatkan kualitas ibadah kita, walau stay at home jangan jadikan ibadahnya belum-belum. Sebagai mahasiswa ayo tingkatkan integritas diri dengan senantiasa semangat menjalani perkuliahan secara online. Kita semua akan mampu melewati masa sulit ini dengan penuh solidaritas melawan pandemi yang tengah melanda dengan stay at home, study from home and work from home. Sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami taat).

Stay healthy and keep strong :)

.
đź–‹rinibahagiaa.blogspot.com

3 komentar:

  1. Yuk Merapat Best Betting Online Hanya Di AREATOTO
    Dalam 1 Userid Dapat Bermain Semua Permainan
    Yang Ada :
    TARUHAN BOLA - LIVE CASINO - SABUNG AYAM - TOGEL ONLINE ( Tanpa Batas Invest )
    Sekedar Nonton Bola ,
    Jika Tidak Pasang Taruhan , Mana Seru , Pasangkan Taruhan Anda Di areatoto
    Minimal Deposit Rp 20.000 Dan Withdraw Rp.50.000
    Proses Deposit Dan Withdraw ( EXPRES ) Super Cepat
    Anda Akan Di Layani Dengan Customer Service Yang Ramah
    Website Online 24Jam/Setiap Hariny

    BalasHapus
  2. DISKON TOGEL ONLINE TERBESAR
    BONUS CASHBACK SLOT GAMES 5%
    BONUS ROLLINGAN LIVE CASINO 0,8% (NO LIMIT)
    BONUS CASHBACK SPORTSBOOK 5%
    Bonus di Bagikan Setiap Hari Kamis pukul 11.00 wib s/d selesai
    Syarat dan Ketentuan Berlaku ya bosku :)
    BURUAN DAFTAR!
    dewa-lotto.site
    UNTUK INFORMASI SELANJUTNYA BISA HUB KAMI DI :
    WHATSAPP : (+855 88 876 5575 ) 24 JAM ONLINE BOSKU ^-^

    BalasHapus
  3. Silahkan bermain Tebak ANGKA bersama kami di DEWALOTTO kami juga menyediakan permainan SBOBET, IBCBET dan SABUNG AYAM
    langsung daftar dan bermain minimal depo hanya 20 rb saja silahkan ADD WA +855 888765575 Terima Kasih admin...:)

    BalasHapus

MALAM

Malam mengajarkan banyak hal dalam  kehidupan. (i) Malam  yang mudah  berlalu. - Maknanya; Kesulitan hari ini akan terganti  bahagia   esok ...