Sabtu, 07 Maret 2026

BROKEN STRINGS

📚Broken Strings  
 
by AurĂ©lie Alida Marie Moeremans 
214 halaman
--
Buku memoar yang ditulis oleh AurĂ©lie Moeremans ini berisi tentang kisah nyata beliau yang merupakan korban dari child groomingChild Grooming merupakan suatu bentuk pelecehan seksual yang dilakukan orang dewasa kepada anak-anak dengan cara manipulasi untuk membangun kedekatan emosional serta kepercayaan anak, tujuannya untuk ekspoitasi seksual maupun penyalahgunaan psikologis. Prosesnya cenderung perlahan dan sulit untuk dikenali anak. 

AurĂ©lie lahir di Brussels, Belgia. Ayahnya orang Belgia, Ibunya orang Indonesia. Ia memiliki seorang adik laki-laki bernama JĂ©rĂ©mie. Saat ia berusia 15 tahun yang merupakan seorang anak yang belum fasih bahasa Indonesia. Ia pergi ke Jakarta dengan penuh keyakinan ingin membantu keluarga dengan mengikuti ajang pencarian bakat model, iklan, dll. Disaat anak seusianya bersekolah, ia memilih bekerja dan belajar secara mandiri di rumah.

Singkat cerita takdir mempertemukannya dengan Bobby, bisa disebut ia adalah pria dewasa karena usianya saat itu menginjak 29 tahun. Rupanya itu menjadi awal cerita buruk bagi Aurélie. Ia yang masih kecil saat itu tidak mengenal apa yang dimaksud dengan cinta, kasih sayang, pengorbanan hingga pernikahan. Namun, itu menjadi celah bagi sosok Bobby untuk masuk dan mengelabui kepolosan Aurélie kecil saat itu.

Child Grooming*. Kita sebut saat itu AurĂ©lie telah mengalami child grooming. Hal yang dilakukan oleh Bobby sebagai pria dewasa dengan alih-alih dasar cinta dan selalu mengatas namakan Tuhan dalam tindakan busuk yang keji kepada anak usia 15 tahun itu. Bobby selalu merasuki pikiran AurĂ©lie kecil sampai berat rasanya untuk melepaskan ikatan itu hingga berhasil merenggut dan memiliki diri AurĂ©lie kecil saat itu dengan cara yang buruk. Bobby sering memutar balikkan fakta atas apa yang dikatakan dan dilakukan sampai menuduh orang tua AurĂ©lie adalah orang tua yang jahat, menjadikan anaknya yang masih di bawah umur sebagai sapi perah untuk bekerja.

Hal buruk yang tidak sampai dibayangkan bagi AurĂ©lie adalah dipaksa menikah. Saat berusia 18 tahun, AurĂ©lie dijebak oleh Bobby dengan melakukan pernikahan katolik yang ternyata tidak sah. Bobby membawa AurĂ©lie tanpa sepengetahuan orang tuanya. Bobby membuat saksi palsu, orang tua palsu bagi AurĂ©lie, membuat pastor berbohong dengan membuat surat pernikahan palsu. Sungguh ini diluar akal sehat manusia normal.

Bobby membawa Aurélie tinggal di rumahnya yang bahkan kondisinya begitu sesak. Satu rumah dihuni oleh Ayah dan Ibu Bobby, Kakak dan Kakak Ipar Bobby, keponakannya, serta pembantu yang sudah tua. Rupanya bertambah satu anggota baru yang bahkan berat baginya untuk tinggal yaitu Aurélie.

Setiap hari hanya penuh dramatisir kehidupan yang dialami AurĂ©lie. Perlakuan yang kejam seperti budak, penghinaan dengan meludah ke wajah AurĂ©lie serta kekerasan fisik selalu ia terima. Bersama Angel (monyet peliharaan AurĂ©lie) ia melewati hari-hari penuh penderitaan dan penuh kesedihan. Sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana bisa ada manusia yang bisa berlaku demikian!

Penurunan klimaks adalah pada saat ibu Aurélie berusaha menolong anaknya dengan membongkar kebusukan pernikahan palsu yang dilakukan Bobby. Ibu Aurélie mencari bukti dari pastor gereja penyelenggara pernikahan Aurélie saat itu, dan pastor tersebut meminta maaf karena telah berbohong. Sampai akhirnya orang tua Aurélie memperoleh kembali anak perempuannya dan menjauhkan dari neraka yang seharusnya tidak pernah terjadi pada mereka.
.
Walau kasus Aurélie ini tidak pernah benar-benar selesai secara hukum, harapnya semoga dimasa selanjutnya tidak ada hal tersebut terulang kembali. Semoga Aurélie yang saat ini dan kedepannya lebih penuh dengan kebahagiaan.
.
Pesan dan Refleksi: 
Berdasar novel memoar yang ditulis oleh Aurélie dapat diperoleh beberapan pembelajaran:

  1. Sebagai orang tua patut untuk menjadi pelindung, pendengar, dan penasihat terbaik bagi anak. Anak tentu mencontoh orang tua nya, jadi berilah contoh tentang kebaikan, tetapi perlu untuk berikan ruang seperti diskusi dengan anak. Hal tersebut dimaksudkan agar isi pikiran anak juga mampu mendapat tanggapan dan dapat terurai dengan baik.
  2. Sebagai orang tua juga perlu memberikan pengawasan bagi anak yang masih usia di bawah umur dalam bergaul dan bersosialisasi di lingkungannya. Bukan mengekang, tetapi memberitahu jika terdapat hal yang dirasa kurang sesuai dengan anak.
  3. Sebagai lembaga negara yang bergerak melindungi anak, tentu harus bersikap lebih bijak dalam menangani kasus tentang anak. Seperti hal nya kasus child grooming pada AurĂ©lie, tidak sepatutnya untuk menyudutkan, menyalahkan korban, serta tidak memberikan bantuan terhadapnya.
  4. Sebagai lembaga negara tentu sepatutnya mengusut tuntas hal-hal yang berkaitan dengan kekerasan seksual, pornografi hingga penipuan dan pemerasan. Karena hal tersebut sangat rentan terjadi dan sebagian besar korban yang memberikan laporan, sering kali dipersulit, tidak ditanggapi dan diselesaikan dengan baik hingga selesai.
  5. Sebagai masyarakat luas tentu perlu untuk saling memahami antar sesama. Masyarakat juga perlu untuk terbuka untuk melihat tanda-tanda child grooming dan mendukung korban untuk berbicara fakta kejadian serta mencari bantuan. Tidak perlu memberi stigma terhadap korban. Karena korban sebaiknya dirangkul bukan intuk dicecar dan dicemooh. Penting kiranya pula untuk membentuk edukasi diri dan orang lain serta cara pencegahan terkait child grooming. Mari bentuk lingkungan sosial yang positif.

.

đź–‹rinibahagiaa.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

MALAM

Malam mengajarkan banyak hal dalam  kehidupan. (i) Malam  yang mudah  berlalu. - Maknanya; Kesulitan hari ini akan terganti  bahagia   esok ...